Pak Didin, Nyala juang ditengah keterbatasan



Saya merupakan seorang calon guru. Walau belum total berprofesi sebagai seorang guru karena kontrak yang saat ini saya jalankan yaitu menjadi salah satu mahasiswa Sekolah Guru Indonesia (SGI) angkatan 21 Dompet Dhuafa. Saya pikir, saat ini menjadi seorang guru adalah nikmat terbesar yang Allah swt. berikan pada saya. Walau saya bukanlah sarjana yang berasal dari pendidikan namun saya yakin bisa berjuang di tengah keterbatasan yang saya miliki. Selengkapnya tentang program dompet dhuafa bisa klik www.dompetdhuafa.org



Semenjak di SGI saya menjadi tahu jika pendidikan di Indonesia memiliki begitu masalah yang kompleks. Untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baiklah motivasi terbesar saya menerima beasiswa dari SGI. Sudah setahun menjalani pembinaan di SGI dan mengajar beberapa sekolah di pulau Jawa membuat saya paham arti pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Meneruskan kebermanfaatan  yang saya terima kebanyak orang adalah satu kebahagiaan tersendiri bagi saya.



Melakukan 9 jam perjalanan darat hingga tiba di pool bis yang kami naiki. Lalu untuk sampai ke desanya sendiri mobil berhenti disebuah desa yang merupakan desa yang tidak ingin kami tuju. Berhenti disitu bukan tanpa alasan, karena mobil yang kami sewa tidak dapat mengakses ke desa yang ingin kami tuju. Jadilah kami berjalan kaki, kurang lebih 2 jam.  Semuanya pasti sudah dapat membayangkan mengenai beratnya perjuangan kami untuk sampai ke desa Suka Sirna.


Kali ini saya ingin menceritakan secuil pengalaman saya tentang pahlawan kemanusiaan yang saya temui saat mengadakan perjalanan ke sebuah gunung yang ada di kabupaten Tasikmalaya Gunung Tanjung, Pak guru Didin namanya. Beliau adalah guru honorer tepatnya di SDN. Cipinaha Desa Suka Sirna Kecamatan Gunung Tanjung. Sebagai wali kelas dan juga pengajar beberapa ekskul, pak Didin sudah bekerja hampir 10 tahun di SDN. Cipinaha. Berjalan kaki hingga berkilo-kilo tidak membuat semanagt Pak Didin patah untuk mendidik para tunas bangsa. Perjalanan yang luar biasa lelahnya untuk setiap hari ia tempuh, namun terbayarkan dengan melihat mereka, para Tunas bangsa sahut Pak Didin dalam wawancara singkat saya.

Jalan berkilo-kilo untuk sampai kesekolah memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sini. Pagi yang syahdu, ketika saya berkesempattan melihat para tunas bangsa berjalan kaki untuk sampai di SDN. Cipinaha. Waktu merekapun bervariasi, karena masuk sekolah pukul 07.00 WIB, ada yang pukul 06.00 sudah berjalan kaki dari rumahnya bahkan ada yang lebih pagi lagi. Pemandangan hari yang masih gelap namun anak sekolahan disini sudah berjalan kaki bukanlah merupakan hal yang luar biasa lagi. Inilah yang menjadikan rasa berbeda di trip kali ini.

Tantangan, rintangan dan hambatan seolah bercampur menjadi satu untuk semua generasi penerus bangsa yang tinggal di belakang bukit gunung tanjung. Semangat kerelawanan yang Pak Didin ajarkan kepada saya, membuat saya akan selalu menambah rasa syukur akan banyak nikmat Allah swt hingga saat ini. Walau trekadang gaji Pak Didin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ia bersama keluarganya, namun bukan itu tujuan Pak Didin. Kata-kata yang sempat sembuat saya terhanyut haru, ketika Pak Didin mengatakan “hidup di dunia sifatnya hanya sementara, jika tidak perbanyak menolong sesama apa yang akan dinilai dari diri kita.”

Bergabung menjadi salah satu penerima manfaat di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa, membuat saya bangga akan amanah ini. Ya, kegiatan yang dulunya hampiir tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, untuk berbagi bersama guru-guru di seluruh pelosok Indonesia. Saya melihat jiwa kerelawanan yang utuh pada lembaga SGI tempat saya saat ini bernaung. Tidak hanya meningkatkatkan kualitas guru, bukan hanya keterampilan, melainkan mengasah mental karakter. Dari sekedar mengajar menjadi merubah menjadi mendidik dan memipin adalah visi kami kedepan.

Pak Didin adalah salah satu contoh dari banyak pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang ada di Indonesia. Semangat juang Pak Didin, tentu menginspirasi banyak pahlawan-pahlawan pendidikan di luaran sana. Semoga, akan lahir banyak Pak Didin, pak Didin lainnya untuk kebangkitan pendidikan di negeri tercinta.

Mari bantu melahirkan pahlawan-pahlawan kemanusiaan lewat donasi di Dompet Dhuaf bisa klik donasi.dompetdhuafa.org

Semoga kita akan dapat berproses menjadi pahlawan kemanusiaan.dompetdhuafa.org yang sesuai dengan zaman saat ini atau bahasa gaulnya Hero Zaman Now kemanusiaan.dompetdhuafa.org



#BulanKemanusiaan
#HeroJamanNow
#MembentangKebaikan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4

Muslimah dan Media Sosial

Episode 6